MARI MEMBACA. Powered by Blogger.

Sejarah Gong Perdamaian Dunia


Menurut sejarahnya Word Peace Gong atau Gong Perdamaian Dunia yang biasa disingkat GPD diciptakan pada akhir tahun 2002 yaitu pasca “Bom Bali-I” oleh Komite Perdamaian Dunia, Djutoko Suntani, Gde Sumarjaya Linggih, anggota DPR RI, dan beberapa tokoh nasional lain seperti Esy Darmadi, Lieus Sungkharisma, dan ditabuh untuk pertama kalinya oleh Presiden dan Wakil Presiden RI di Bali pada tanggal 31 Desember 2002, tepat pukul 00.00 WITA di hadapan seluruh tokoh bangsa, untuk mencanangkan “Tahun 2003 sebagai Tahun Perdamaian Indonesia”. Gong Perdamaian Dunia (GPD) merupakan satu-satunya sarana Persaudaraan  dan Pemersatu Umat Manusia di dunia. Dengan adanya Gong Perdamaian Dunia (GPD)
dapat mempersatuakan umat manusia tanpa mengenal perbedaan ras, suku, bangsa, ideologi ataupun sekat-sekat pemisah lainya, melainkan umat manusia hanya mengenal satu kesatuan yang utuh dengan mengatasnamakan satu keluarga yang tidak lain yaitu Keluarga Bumi
.

Gong Perdamaian Dunia telah ada sebelumnya yang berasal dari desa planja-mlonggo-jepara-jawa tengah, Gong sacral ini telah berusia sekitar 450 tahun dan dijaga oleh Ibu Musrini yang merupakan pewaris milik gong generasi ketujuh, yang bertempat tinggal di desa Plajan lereng Barat gunung Muria.  Gong ini dibuat oleh seorang wali yang berasal dari kerajaan demak dan gong ini digunakan sebagai sarana dakwah dalam mengajarkan agama islam ke daerah pegunungan yang pada waktu itu masyarakat masih menganut kepercayaan animisme.  Tokoh dunia peraih “Nobel Perdamaian” yang berkali-kali menjadi Perdana Menteri Israel, Shimon Perez, menyebut Gunung Muria di Jawa Tengah (Indonesia) memiliki kekuatan aura magik luar biasa. Yasser Arafat (Presiden Palestina), juga peraih “Nobel Perdamaian,” mengatakan : Muria merupakan gunung pilihan Alloh untuk dijadikan “Gunung Perdamaian”. Kedua tokoh peraih nobel asal Timur Tengah itu berpendapat, Gunung Muria di Jawa Tengah (Indonesia) merupakan “saudara kembar,” dengan Gunung Muria di Yerusalem (Palestina). Karena memiliki struktur ukuran tinggi dan besar. Nama Muria (Moria) berasal dari bahasa Ibrani (Ibrahim), berarti “pilihan Allah”.

Menurut sejarah yang ada di gunung Muriah (palestina) merupakan tempat yang sakral, mulai dari Nabi Ibrahim yang mendapatkan perintah langsung dari Allah di gunung Muria untuk menyebarkan agama kepada seluruh umat manusi mengenai ketauhidan (satu Tuhan). Kemudian Nabi Musa yang mendapat “10 Perintah Tuhan” namun Nabi Musa kembali ke gunug Muria untuk meminta penjelasan tentang “10 Perintah Tuhan” setelah Nabi Musa muncul Nabi Daud yang pada zamannya menjadi raja, ia mendapat perintah pertama dari Tuhan untuk membagun rumah ibadah di gunung Muriah, karena pembangunan rumah ibadah belum selesai kemudian dilanjutkan oleh anaknya Nabi Suleman (Solomon) yang juga sekaligus menjadi raja pada saat itu, ia melanjutkan pembangunan rumah ibadah hingga selesai secara sempurna di gunung Muriah. Pada generasi berikutnya muncul Nabi Isa setelah dibimbing oleh Nabi Yahya, ia mendapat wahyu untuk mengajarkan agama kepada Bani Israil, dan Nabi Isa memilih gunung Muria sebagai tempat pertama kali untuk mengajarkan ilmu agama. Kemudian yang terakhir Nabi Muhammad yang meakukan mi’raj dari Gunung Muria menuju sidratul-mutaha.

Berangkat dari latar belakang sejarah sebagaimana dipaparkan di atas, keberadaan Gunung Muria, secara kasat mata mendapat predikat “Gunung Perdamaian”, untuk menyatukan seluruh umat manusia di muka Bumi. Karena itu cikal bakal “Gong Perdamaian Dunia” (World Peace Gong) sebagai sarana yang mampu menyatukan umat manusia di seluruh dunia, berasal dari Gunung Muria di Jawa Tengah-Indonesia. Alasan mengapa bukan di Palestina (Gunung Muria) karena di sana masih terjadi konflik pertikaian yang masih berlangsung hingga saat ini. Namun suatu saat nanti GPD akan di pasang secara permanen di Gunung Muria guna menghentikan pertikaan yang terjadi di yerusalem dengan harapa dapat mewujudkan perdamaian secara permanen di seluruh kawasan Timur Tengah.

Gong Perdamaian Dunia memiliki banyak simbol yang memiliki makna tersendiri yang dapat mengontrol atau mengakomodir aspirasikan dan kepentingan umat manusia. Pada lingkaran tengah, terdapat tulisan “World Peace Gong”, gambar Bunga serta tulisan dalam Bahasa Indonesia ‘Gong Perdamaian Dunia’. Tulisan dan bunga, merupakan peneguhan identitas jatidiri Gong Perdamaian. Bahasa Inggris ditampilkan karena bahasa komunikasi internasional. Sementara eksistensi Bahasa Indonesia untuk menegaskan sarana agung ini berasal dari Indonesia. Sedangkan Bunga merupakan lambang keindahan, kebahagiaan serta perdamaian, di tempatkan pada sisi pemisah antara dua tulisan. Posisi bunga ada pada dua tempat, berada di samping kiri dan kanan, memiliki arti simbol keseimbangan. Pada lingkaran dalam, menampilkan 10 simbol agama besar yang dianut mayoritas penduduk Dunia. Sepuluh (10) agama besar terdiri dari : Islam, Hindu, Yahudi, Kristen, Budha, Khonghuchu, Tao, Sikh, Shinto dan Bali. Di luar agama yang disebut di atas, masih ada agama maupun sekte-sekte lain yang dianut penduduk Bumi. Karena jumlah pemeluk tidak terlalu banyak, belum dimasukkan dalam struktur “GPD”. Ini hanya pertimbangan teknis saja. Sedangkan agama Yahudi, kendati memiliki pemeluk relatif kecil, namun keberadaan mereka menyebar, memiliki jaringan pengaruh cukup signifikan pada dunia internasional. Karena itu, symbol agama Yahudi (Bintang Daud/Star David) ada pada “GPD”. Selain itu, agama (Hindu) Bali, meski memiliki pemeluk relatif sedikit, tapi symbol Swastika ditampilkan, karena GPD pertama kali dibunyikan di pulau Bali-Indonesia. Pada Lingkaran puncak, GPD menampilkan Bola Dunia, Planet Bumi atau Globe. Planet Bumi berada di puncak, yang menggambarkan semua manusia hidup dan berpijak di Planet Bumi. Semua penduduk Bumi berasal dari satu keluarga (satu keturunan). Seluruh manusia merupakan “satu keluarga” yaitu “Keluarga Bumi/Warga Dunia”.

Terpilihnya kota Ambon menjadi tempat dipasang duplikat Gong Perdamaian Dunia di Indonesia tidak lepas dari konflik yang terjadi di Maluku. Menurut kronologisnya konflik ini mulai memanas pada tahun 1998 dan mulai meredam hingga 2005 kemarin, konflik di Maluku merupakan civil war yang banyak menelan korban, menurut data yang ada selama dua tahun saja konflik ini berjalan telah menelan korban hampir 8.000 jiwa dan lebih dari 350 jiwa yang mengungsi. Isu agama yang menjadi titik pemicu yang dapat memecahkan persatuan yang ada di Maluku, begitu banyak konspirasi politik yang ikut campur dalam konflik ini sehingga mempersulit dalam penyelesaiannya. Dengan adanya Gong Perdamaian yang diapasang secara permanen di Ibokota Maluku dapat menciptakan permadaian yang permanen pula sehingga tidak lagi meresahkan masyarakat Maluku pada khususnya.  Begitupun juga jagan sampai Gong Perdamaian Dunia yang tepatnya berada di dekat lapangan Pattimura tidak menjadi hiasan kota saja yang makna sebenarnya tidak lagi dirasakan oleh segenap masyarakat. Melihat tempat-tempat yang bersejarah hari ini telah menjadi tempat wisata yang hanya dikunjungi untuk sekedar melepas stress, pacaran, dan lain-lain.

0 comments "Sejarah Gong Perdamaian Dunia", Baca atau Masukkan Komentar